Bamboo Sanctuary Pancawati dan Fakultas Kehutanan Universitas Nusa Bangsa adakan Kegiatan Pelestrarian Gedepahala

“Yuk Lestarikan Bumi Part 2” Sukses Digelar di Bogor: Ketua Pelaksana Yuhika Afrisky Dorong Kolaborasi untuk Pelestarian Gedepahala

________________________________________
Bogor, 1 Juni 2025 – Kegiatan pelestarian lingkungan bertajuk “Yuk Lestarikan Bumi Part 2” sukses diselenggarakan pada Minggu, 1 Juni 2025, di Plaza Node Café and Lounge, Pancawati, Bogor. Acara ini menjadi wadah dialog dan aksi nyata pelestarian alam yang merupakan hasil kolaborasi antara Bamboo Sanctuary Pancawati dan Fakultas Kehutanan Universitas Nusa Bangsa, serta melissbatkan berbagai elemen masyarakat – mulai dari akademisi, pelajar, kelompok pemuda, sektor swasta, komunitas konservasi, LSM, hingga perwakilan pemerintah dan masyarakat umum. Ketua Pelaksana, Yuhika Afrisky, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari kepedulian kolektif terhadap pelestarian bentang alam strategis Gede Pangrango dan Halimun Salak (Gedepahala), sekaligus menjadi ajang penguatan jejaring antaraktor konservasi di tingkat lokal maupun nasional.
________________________________________
Dengan mengusung tema “Menguatkan Peran Generasi Muda, Komunitas Konservasi, Guru, Swasta, dan Masyarakat untuk Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Gede Pangrango dan Halimun Salak,” kegiatan ini bertujuan membangun sinergi lintas sektor guna melindungi kekayaan biodiversitas di kawasan Gedepahala.
________________________________________
Registrasi peserta dibuka pada pukul 08.30 WIB, dan acara resmi dimulai pukul 08.55 WIB dengan pembukaan oleh pembawa acara, Ibu Yani, S.Hut., M.M. Sambutan pertama disampaikan oleh Bapak Daniel Arjuna Filgo, Direktur Bamboo Sanctuary Pancawati, yang menegaskan pentingnya keterlibatan komunitas lokal dalam konservasi. Sambutan kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Luluk Setyaningsih, S.Hut., M.Si., IPU, Dekan Fakusltas Kehutanan Universitas Nusa Bangsa, yang diwakili oleh Bapak Dwi Agus Sasongko, S.Hut., M.Si. Ia menyoroti peran akademisi dan mahasiswa dalam pelestarian lingkungan.
________________________________________
Acara ini juga dihadiri oleh dua tokoh penting konservasi, yakni Ir. Arief Mahmud, M.Si., Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, dan Bapak Budhi Chandra, S.H., M.H., Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Dalam sambutannya, Ir. Arief Mahmud menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dan komunitas dalam menjaga kawasan taman nasional. Sementara itu, Bapak Budhi Chandra menyampaikan bahwa keberhasilan konservasi hanya dapat dicapai melalui pendekatan kolaboratif yang menyatukan berbagai pemangku kepentingan.
________________________________________
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut ke sesi diskusi panel bertema “Potensi dan Tantangan Pelestarian Bentang Alam Gedepahala” yang menghadirkan tiga narasumber utama. Dr. (H.C.) Ir. Wahjudi Wardojo, M.Sc., mantan Sekretaris Jenderal KLHK dan anggota Konsorsium Gedepahala, membuka diskusi dengan menguraikan pentingnya menjaga lanskap Gedepahala secara berkelanjutan. Dr. Dolly Priatna, Direktur Eksekutif Belantara Foundation dan dosen Universitas Pakuan, menyoroti ancaman degradasi lingkungan di wilayah penyangga antara Gunung Gede Pangrango dan Halimun Salak. Sementara itu, Bapak Dwi Agus Sasongko, S.Hut., M.Si., dosen Fakultas Kehutanan Universitas Nusa Bangsa, menekankan peran strategis generasi muda, guru, dan sektor swasta dalam pengelolaan lingkungan yang inklusif dan berkelanjutan. Diskusi berlangsung interaktif dan diakhiri dengan sesi tanya jawab yang memperkuat interaksi antara peserta dan narasumber.
________________________________________
Memasuki sesi kedua bertajuk “Sorotan Spesies Kunci Gedepahala,” sejumlah pelaku konservasi membagikan kisah inspiratif dari lapangan. Dr. Sofian Iskandar memaparkan upaya pelestarian primata endemik Jawa, Owa Jawa, yang kini terancam punah. Selanjutnya, perwakilan dari Yayasan PUTER Indonesia, Bapak Asep Mulyana, menyampaikan edukasi terkait habitat dan pelestarian Elang Jawa – salah satu burung pemangsa yang menjadi indikator kesehatan ekosistem dengan Tagline sekaligus visinya adalah Safe Trail • Happy Communities • Safe Eagle. Sesi ini ditutup oleh perwakilan dari Yayasan SINTAS Indonesia, Ibu Alhalimata Rosyidi, yang menjelaskan strategi konservasi Macan Tutul melalui pendekatan pelibatan masyarakat sekitar hutan.
________________________________________
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, dilakukan aksi simbolik pelestarian lingkungan berupa penanaman pohon. Aksi ini tidak hanya melibatkan peserta umum, mahasiswa, dan komunitas konservasi, tetapi juga dihadiri langsung oleh Ir. Arief Mahmud, M.Si., dan Bapak Budhi Chandra, S.H., M.H. Kehadiran kedua pimpinan lembaga konservasi ini mempertegas komitmen kelembagaan terhadap pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kelestarian kawasan Gedepahala. Keterlibatan aktif berbagai pihak – mulai dari masyarakat sipil hingga otoritas taman nasional – menjadi cerminan bahwa pelestarian alam tidak dapat dilakukan secara terpisah, melainkan memerlukan sinergi yang berkelanjutan. Kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama sebagai simbol solidaritas dan pengingat akan pentingnya aksi nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.
________________________________________
Menurut Yuhika Afrisky, kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang edukatif, tetapi juga ruang penguatan jaringan antara aktor konservasi di tingkat lokal maupun nasional. “Kami percaya bahwa perubahan nyata dimulai dari kebersamaan. Jika semua pihak bergerak dalam satu visi, maka pelestarian alam bukan sekadar wacana, melainkan menjadi komitmen kolektif,” ujarnya dengan penuh optimisme. Ia juga berharap semangat yang terbangun dari kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi gerakan serupa di berbagai wilayah lainnya.
________________________________________
Secara keseluruhan, “Yuk Lestarikan Bumi Part 2” tidak hanya menjadi wadah edukasi dan penyuluhan lingkungan, tetapi juga berhasil mempertemukan berbagai pihak dalam satu panggung kolaboratif. Semangat kebersamaan yang tercipta dari kegiatan ini menjadi harapan baru bagi gerakan pelestarian lingkungan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdampak nyata di masa depan.
Kegiatan ini didukung dan disponsori oleh berbagai pihak yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian lingkungan, antara lain: Bamboo Sanctuary Pancawati, Node Café and Lounge, Fakultas Kehutanan Universitas Nusa Bangsa, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, PT. Eigerindo Multi Produk Industri (EIGER Adventure), PT. Belantara Alam Consultant, Coca-Cola Europacific Partners Indonesia, Javan Hawk Eagle Trail, Yayasan Belantara Foundation, Yayasan PUTER Indonesia, Yayasan SINTAS Indonesia, Yayasan Rasaning Rasa, Kelompok Mahasiswa Pemerhati Herpetofauna (KMPH), Youth Eco Endemic, KTH Model Kampung Konservasi Cisangku, PT. Interteknis Suryaterang dan lainnya. Dukungan ini menjadi bukti nyata bahwa kerja sama lintas sektor adalah kunci keberhasilan gerakan konservasi berkelanjutan.

Tentang Bamboo Sanctuary Pancawati
Bamboo Sanctuary Pancawati merupakan ruang konservasi dan edukasi berbasis masyarakat yang berlokasi di Desa Pancawati, Kabupaten Bogor. Tempat ini berperan sebagai pusat pembelajaran dan aksi nyata dalam pelestarian lingkungan, dengan menitikberatkan pada pemanfaatan bambu sebagai elemen ekologis, ekonomi, dan budaya.

Melalui pendekatan kolaboratif, Bamboo Sanctuary menghubungkan akademisi, komunitas lokal, sektor swasta, dan pemerintah untuk membangun kesadaran dan kapasitas dalam menjaga keanekaragaman hayati di kawasan strategis seperti Gede Pangrango dan Halimun Salak (Gedepahala). Selain sebagai tempat pelatihan dan pertemuan, Bamboo Sanctuary ini juga menjadi wadah inkubasi program konservasi dan pemberdayaan ekonomi berkelanjutan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *