PROGRAM KEMITRAAN MASYARAKAT (PKM) Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Teknis Petani dalam Pengelolaan Optimal Pola Agroforestri di Desa Leuwisadeng Kecamatan Leuwisadeng Kabupaten Bogor

Kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menjadi kewajiban setiap dosen adalah pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Adanya kegiatan pengabdian  dengan skema  Program Kemitraan Masyarakat (PKM) hibah Kementrian Menristek dan Dikti, berbagai permasalahan produktivitas lahan baik pada bidang produksi, manajemen usaha dan bidang pemasaran yang diidentifikasi di tengah masyarakat Desa Leuwisadeng bisa dicarikan solusinya.

Solusi yang diberikan dalam peningkatan produktivitas lahan antara lain: menyelenggarakan pelatihan atau bimtek pola agroforestry dan perlindungan mata air, mengelola pengadaan bibit pohon penghijauan dan MPTS serta pakan ternak secara berkelajutan,  mengembangkan kualitas produk tanaman sehingga harga jual tinggi. Hal ini berarti pengelolaan lahan pola Agroforestri bersifat sinergis dan menguntungkan ditinjau aspek ekologi dan sosial ekonomi.

Program/kegiatan PKM telah dan sedang dilaksanakan oleh Dr Zainal Muttaqin dkk dari Universitas Nusa Bangsa antara lain pembangunan demplot Agroforestri seluas ±2 ha dengan pola tanam pertama berupa ‘Agroforestri berselang’ dengan jarak tanam 3m x 3m antara jenis tanaman hutan terdiri atas sengon, jati unggul nusantara (JUN), suren (Toona sureni) dan tanaman MPTS (multiple purpose tree species), seperti manggis, cengkeh dan petai. Jenis tanaman kayu lainnya adalah manglid, mindi, jabon putih, Shorea sp dengan tanaman MPTS seperti coklat, apokat dan kopi. Pola tanam kedua adalah sistem campuran dengan jarak tanam 5m x 3m meliputi jenis sengon, JUN dan suren, ketentuan ditanam jenis yang sama pada satu jalur tanaman serta tanaman tumpangsari meliputi tanaman rempah-rempahan (jahe merah, jahe gajah jahi emprit) dan rumput tarum.  Pola tanam ketiga adalah serupa dengan pola tanam kedua, hanya berbeda pada jenis tanaman kayu meliputi manglid, mindi, jabon putih dan Shorea sp serta tanaman tumpangsari berupa pangan dan hortikultura seperti jagung, kacang tanah, serta tanaman sayuran seperti mentimun suri, katup. Pada ketiga pola penanaman tersebut ditanam tanaman pengisi seperti pisang berfungsi sebagai tanaman pelindung dengan jarak tanam 2,5 m x 2 m. Penampakan bentang alam dan kondisi demplot Agroforestri serta demplot persemaian, disajikan pada gambar berikut.

 

Program PKM lainnya mempertimbangkan kondisi pengelolaan pola Agroforestri yang kurang optimal di desa Leuwisadeng tersebut. Dalam hal ini diperlukan pendampingan berupa bimbingan teknis (bimtek) bagi para petani tentang optimalisasi pola agroforestri menyangkut pola penanaman tanaman pokok dan tanaman tumpangsari, penanaman/pengayaan vegetasi sekitar sumber mata air, serta pembuatan demplot persemaian.

Tujuan bimtek tersebut adalah untuk peningkatan pengetahuan, kesadaran dan keterampilan teknis para petani dalam mengelola lahan Agroforestri khususnya:

  • Penanaman dan pengayaan tanaman pokok dan tumpangsari melalui pembangunan demplot agroforestri yang baru sekitar demplot agroforestri yang sudah ada (lama) yang telah difasilitasi oleh BPDAS dan HL Citarum-Ciliwung pada tahun 2016 seluas 15 ha selama jangka waktu 3 tahun, dan penanaman/pengayaan vegetasi penutup tanah yang berfungi sebagai pelindung terhadap erosi dan longsor sekitar sumber mata air.
  • Untuk meningkatkan produktivitas hasil/panen jenis tanaman pokok dan tumpangsari serta pakan ternak, dilakukan melalui teknik peningkatan kesuburan tanah dengan cara aplikasi biochar (arang hayati) yang dibenamkan pada tanah permukaan. Menurut telaah pustaka bahwa biochar sebagai bahan pembenah tanah atau amelioran tanah yang mempunyai sifat meningkatkan luas permukaan tanah melalui penjerapan kation hara atau kapasitas tukar kation tanah (KTK). Selain itu sifat morfologi biochar yang mempunyai persentase pori-pori yang tinggi menyebabkan peningkatan partikel tanah untuk menahan air, mengurangi kerapatan lindak tanah dan peningkatan ketersediaan hara dikarenakan modifikasi kekerasan media tanam dan penurunan laju pencucian kation hara yang mudah tercuci (Liang et al. 2006, Asai et al. 2009).
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *