Petani Kurang Regenerasi

Saat ini Indonesia tengah mengalami krisis petani. Ironisnya, bangsa yang terlahir di negara agraria ini kurang meminati usaha ini. Seperti data yang dirilis oleh CNN Indonesia, petani yang ada saat ini mayoritas berusia 45 tahun keatas. Tentunya hal menjadi lampu kuning bagi pemerintah. Aspek tersebut menentukan nasib pangan Indonesia kedepannya.

Rendahnya minat generasi muda untuk menjadi petani berimbas pada Program Studi pertanian di Indonesia yang saat ini nampak kurang diminati. Dari data Forlap Dikti menunjukkan jumlah Program Studi bidang Pertanian sebanyak 1.819 program studi dan jumlah mahasiswa sebanyak 289.893 mahasiswa. Artinya, rata-rata jumlah mahasiswa Pertanian sebanyak 160 mahasiswa. Sangat jauh jika kita bandingkan dengan Jurusan bidang Pendidikan dan Ekonomi dengan jumlah rata-rata 220 mahasiswa dan 340 mahasiswa.

Impor akan menjadi satu satunya solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Misalnya bahan pokok seperti beras, kedelai dan tentunya masih banyak kebutuhan kebutuhan yang akhirnya mau tidak mau pemerintah harus membeli dari luar negeri  dikarenakan hasil pertanian yang ada tidak cukup memenuhi kebutuhan. Hal tersebut bisa dicegah jika pemerintah semakin masif mendukung program untuk kesejahteraan petani. Salah satunya mendorong mahasiswa untuk memilih jurusan pertanian.

Pada Program Studi bidang Pertanian diantaranya Agroteknologi dan Agribisnis yang memiliki peluang kerja serta usaha cukup besar saat ini. Seperti Jurusan Agroteknologi yang mempelajari ilmu tentang pengolahan tanah dan produksi tanaman. Sedangkan Agribisnis jurusan yang mempelajari ilmu untuk membangun usaha dalam memperoleh keuntungan mulai dari proses pengolahan tanah, produksi tanaman sampai pasca panen.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *